Masa Depan Air dan World Water Forum

Uncategorized493 Dilihat

HarianSultra.com – Nun diwaktu yang lampau, negeri kita dikenal sebagai negeri gemah ripah lohjinawi, tata tentram kertaraharja, negeri yang diberkahi dengan keindahan, kelimpahan sumberdaya, jauh dari keresehan dan diliputi kebahagiaan, sungai-sungai mengalir jauh, memberi kehidupan bagi banyak penduduk negeri.
Anak-anak bernyanyi, tanah airku-tumpah darahku, tanah yang subur-kaya makmur, sebuah negeri tempat merambat banyak harapan,  pesona negeri yang memberikan kita keyakinan bahwa surga yang terlempar ke bumi itu adalah Indonesia.

Momen ini kembali berpendar, sesaat menyaksikan bagaimana Bali menyambut para tamu di World Water Forum (WWF), Keindahan Bali sebagai destinasi para tamu tersohor seantero dunia. Setidaknya ada 8 kepala negara, 105 menteri dari 132 negara yang hadir dalam perhelatan tersebut, menyampaikan kekagumannya pada alam Bali.

Impian tentang Kesejahteraan Bersama

Perhelatan WWF ke 10 ini mengangkat tema  “ Water For Shared Prosperity” air untuk kesejahteraan bersama, satu tema yang menyatukan kita sebagai warga dunia, tentang impian yang sama, menciptakan kesejahteraan melalui pengelolaan sumberdaya air.

Syahdan seorang politikus Amerika pernah bertutur, Air adalah urat nadi tubuh kita, ekonomi kita, bangsa kita dan kesejahteraan kita” sebuah pandangan yang menyatukan bahwa kita semua sama dihadapan ciptaan Tuhan yang satu ini, bahwa kita semua membutuhkan air sebagai materi untuk melanjutkan kehidupan.

Kesadaran puitik juga pernah disampaikan oleh WH. Auden, seorang penyair, “ Ribuan orang telah hidup tanpa cinta, tidak seorang pun tanpa air” bentuk kesadaran yang menggugah kita, bahwa air ini tak main-main pentingnya, hingga memaksa negara-negara di dunia, untuk melakukan pertemuan regular 3 tahunan untuk merancang masa depan air.

Rancangan Masa Depan Air

Warga dunia sedang dihadapkan pada benturan nasib yang sama, sekitar 8 miliar manusia dipaksa untuk gotong royong berpikir, bagaimana bisa keluar dari krisis air yang terus menghantui, Forum Ekonomi Dunia, sebuah forum tingkat tinggi yang mengangkat secara ilmiah desas desus aktual  global, menyampaikan bahwa dari tahun 2012 hingga 2021 krisis air telah masuk dalam 5 besar risiko dunia dan sangat patut untuk diwaspadai.

Kita kemudian teringat pada pepatah lama “dalamnya laut bisa di duga, dalamnya hati siapa yang tahu”, sesuatu yang memberi pesan ketakterukuran potensi persoalan yang akan kita hadapi, namun pengetahuan melatih kita untuk membuat proyeksi, sebuah kacamata ilmiah yang bisa menjadi early warning system atau peringatan dini akan kemungkinan bencana yang kita alami jika tata kelola air tidak diinsyafi.

Sejauh ini, kekurangan air bersih dirasakan oleh 4 miliar orang atau seperdua penduduk dunia, jumlah sebanyak itu stidaknya dalam satu bulan merasakan kesulitan air bersih, atau  data yang dilansir oleh FAO, jika saat ini ada 500 juta orang petani, yang menghasilkan 80 Persen pangan dunia, sedang berada dalam kondisi rentan terhadap perubahan iklim, dan terancam mengalami kemiskinan akibat berkurangnya sumberdaya air.

Setidaknya ada empat agenda dalam pertemuan WWF, yaitu konservasi air (water conservation), air bersih dan sanitasi (clean water and sanitation), ketahanan pangan dan energi (food and energy security), serta mitigasi bencana alam (mitigation of natural disasters).

Dari empat agenda ini diharapakan terumus sesuatu yang diistilahkan dengan concrete deliverables atau usulan konkret, berupa proyek, inisiatif dan aksi bersama, Sebelum benar-benar terjerembab dalam kedalaman persoalan air ini, warga dunia sepakat untuk merumuskan agenda peta jalan bersama masa depan air kita.

Nasib Air dipentas Ekonomi Politik Nasional

Sejauh apa komitmen ekonomi politik pemerintah Indonesia terkait air, Indonesia turut berpegang pada komitmen global, menautkan cita-cita dalam kerangka kerja bersama di Sustainable Development Goals(SDGs) di target pencapaian ke enam yaitu Air bersih dan sanitasi layak.

Dari sini Indonesia berangkat untuk bersama-sama mewujudkan kondisi yang lebih baik dalam tata kelola air, namun ada banyak persoalan menelikungi kebijakan terkait ini, yang menyebabkan kita mengalami persoalan berkelanjutan terkait air ini diantaranya kualitas air yangmakin tercemar, banjir, kekeringan dan pendangkalan.

Rentetan fakta lainnya seperti yang diutarakan oleh Prigi Arisandi Direktur  Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton), setelah melakukan Ekspedisi Sungai Nusantara (2022) menyampaikan bahwa 93 persen air sungai Indonesia telah tercemar oleh mikroplastik dan limbah sampah lainnya.

Riset tersebut dilakukan pada 68 Sungai Strategis Nasional di seluruh wilayah Indonesia, menurut Ecoton, hal ini tentu sangat miris, sungai strategis nasional tersebut menjadi kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, dan kondisinya sangat mencemaskan kita semua.

Seturut dengan itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) beberapa waktu lalu merilis data bahwa sungai di Indonesia hanya ada sekitar 20 persen yang aman untuk dikonsumsi. Sementara 80 persennya, dinyatakan sudah tercemar. Kelindan fakta data ini memberikan peringatan untuk kita, ada kondisi emergensi dalam pengelolaan air di Indonesia.

Ancaman lainnya adalah privatisasi air, privitaisasi air di indoensia menimbulkan kecemasan pada banyak pihak, undang-undang tentang sumberdaya air dibaca sebagai pesan akan kuatnya nuansa ekonomi yang dapat membatasi warga pada akses air yang layak. Hal ini terbaca dengan semakin banyaknya konflik pengelolaan sumber air antara wara dan pelaku usaha.

Menatap Masa Depan Pengelolaan air dari kesadaran teologis

Melampaui seluruh fakta yang menimbulkan persoalan tersebut, kita mungkin bisa kembali pada berbagai kearifan dan ajaran tentang bagaimana manusia idealnya bersikap pada ruang hidupnya, seperti apa bentuk penghargaan  manusia dalam menjaga kelestarian sumberdaya air yang diselimuti keinginan untuk menciptakan peradaban yang terus menggerus sumberdaya.

Jauh di waktu dulu di abad ke 9, seorang pemikir islam Wasil Ibnu ‘Ata, seorang pakar teologi, linguistik dan balaghah, murid dari guru mashur Hasan Al Basri. ‘Ata yang meyakini bahwa segala sumber kejadian adalah Tuhan, menegaskan peran manusia dalam teologi tentang bencana.
Baginya Tuhan yang maha baik, memberikan manusia kebebasan untuk memilih perilaku yang baik atau buruk, alim atau zalim, berdasarkan itu Tuhan akan melimpahkan pahala atau menderakan hukuman berupa bencana.

Menurut ‘Ata kekuatan manusia menempati posisi penting dalam kaitannya dengan malapetaka, sesuatu yang tak diinginkan oleh manusia, manusia bisa menampilkan dua sisi dirinya, sebagai penyebab atau sebagai pencegah, maka force majeur yang selama ini diartikan sebagai kekuatan dahsyat di luar daya manusia, mestinya patut diwarnai secara lebih, bahwa kekuatan itu juga ada di dalam diri manusia, termasuk kekuatan akal budi untuk berbuat kebaikan dan menjaga semestanya, agar bencana dan malapetaka yang melintas di berbagai peradaban tidak terus terulang.

Mari bersama Menjaga Air Sebagai Warisan Masa Depan Generasi Kita.

Oleh: Sasliansyah (Pegiat Literasi, dan Sekretaris GP Ansor Konsel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *