KONAWE SELATAN, HarianSultra.com — Musim kemarau panjang mulai berdampak terhadap aktivitas pertanian dan perkebunan hortikultura di sejumlah wilayah Konawe Selatan (Konsel). Keterbatasan sumber air hingga tingginya biaya produksi membuat sebagian petani memilih menghentikan sementara kegiatan tanam untuk menghindari risiko gagal panen.
Kondisi tersebut dirasakan anggota Kelompok Tani Karya Tani. Mustar, salah seorang anggota kelompok tani, mengatakan kemarau menyebabkan ketersediaan air semakin terbatas, terutama bagi petani yang mengembangkan komoditas hortikultura seperti cabai, timun, dan tomat.
Menurutnya, sebagian petani memilih tidak menanam karena biaya yang harus dikeluarkan tidak sebanding dengan risiko produksi selama musim kemarau.
“Daripada rugi dan modal habis, banyak anggota kelompok tani yang memilih berhenti menanam dulu selama kemarau ini,” ujar Mustar, Rabu, (23/9/2026).
Ia mengatakan pemerintah daerah sebelumnya telah menyalurkan bantuan pompa air. Namun, pemanfaatannya di lapangan belum sepenuhnya optimal karena terkendala kondisi sumber air, termasuk kedalaman sumur bor yang dinilai belum memadai.
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian petani adalah pengelolaan alat dan mesin pertanian (Alsintan), serta belum seragamnya pemahaman dalam menyosialisasikan kebijakan pertanian kepada petani.
Selain persoalan air, Mustar menyoroti tingginya ketergantungan petani terhadap pupuk bersubsidi. Rencana pembatasan alokasi pupuk subsidi yang diarahkan pada komoditas pangan pokok tertentu dikhawatirkan berdampak terhadap petani hortikultura.
Menurutnya, perbedaan harga pupuk subsidi dan nonsubsidi sangat signifikan. Pupuk subsidi disebut berada di kisaran Rp90.000 per karung, sementara pupuk nonsubsidi dapat mencapai Rp700.000 hingga Rp800.000 per karung.
“Kalau harus beralih total ke pupuk non-subsidi, biaya operasional membengkak dan hasil penjualan tidak bisa menutup modal,” katanya.
Mustar berharap pemerintah tetap memberikan ruang bagi petani hortikultura untuk memperoleh pupuk bersubsidi sesuai kebutuhan dan memastikan distribusinya tepat sasaran.
Ia menilai ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau, dukungan sarana pengairan, serta pendampingan penyuluh menjadi faktor penting agar petani tetap dapat berproduksi di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
Menurutnya, dukungan terhadap hortikultura juga penting dalam memperkuat ketahanan pangan karena kebutuhan pangan masyarakat tidak hanya berasal dari komoditas pangan pokok, tetapi juga sayuran, cabai, dan berbagai hasil hortikultura lainnya.
Di sisi pemasaran, Mustar mengatakan petani masih bergantung kepada tengkulak untuk membawa hasil panen ke Kota Kendari. Kondisi tersebut membuat petani menghadapi risiko fluktuasi harga yang cukup tajam.
Saat produksi melimpah, harga sejumlah komoditas dapat turun drastis. Ia mencontohkan jeruk nipis yang saat panen raya dapat jatuh hingga sekitar Rp100.000 per karung.
Sebaliknya, ketika pasokan berkurang akibat kemarau, harga sayuran dan cabai dapat mengalami kenaikan cukup tinggi.
“Kalau panen banyak, harga turun. Tetapi ketika barang kurang karena kemarau, harga naik. Petani tetap yang paling merasakan dampaknya,” ujarnya.
Karena itu, Mustar berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan saat petani menghadapi kesulitan, tetapi juga memastikan sarana pertanian yang diberikan benar-benar dapat dimanfaatkan.
Ia mendorong agar bantuan fasilitas air, pompa, dan Alsintan diberikan berdasarkan kebutuhan lapangan serta disertai pendampingan sehingga dapat menunjang produktivitas petani secara berkelanjutan.
Mustar juga berharap kebijakan pupuk bersubsidi dapat diterapkan secara fleksibel dan mempertimbangkan kondisi petani hortikultura di daerah, sehingga biaya produksi tetap terkendali dan petani tidak kehilangan modal akibat tingginya ongkos usaha tani.(Marwan)













