HarianSultra.com, Kendari – Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) bekerja sama dengan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) menggelar Pelatihan Tata Laksana Malaria bagi tenaga medis di fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Claro Kendari pada 20–26 Mei 2026 tersebut diikuti oleh 30 dokter dari 26 puskesmas se-Kabupaten Konawe Selatan.
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan malaria guna mendukung target eliminasi malaria di Indonesia pada tahun 2030, sekaligus mempertahankan status eliminasi malaria yang telah diraih Kabupaten Konawe Selatan sejak tahun 2014.
Kepala Dinas Kesehatan Konawe Selatan, Nurlita Jaya AS, S.Sos., M.Kes, mengatakan malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius karena berdampak terhadap angka kesakitan, kematian, serta produktivitas masyarakat.
“Peningkatan kompetensi tenaga medis menjadi langkah penting untuk memastikan setiap pasien malaria mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat sesuai standar yang berlaku,” ujarnya.
Menurut Nurlita, meskipun sebagian besar kasus malaria di Indonesia terkonsentrasi di wilayah timur, upaya pencegahan dan pengendalian harus terus diperkuat di seluruh daerah, termasuk Konawe Selatan. Hal tersebut penting untuk menjaga keberhasilan program eliminasi malaria yang telah dicapai.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Konsel dengan penanggung jawab kegiatan Yuyun Nirwana Subair, SKM., M.Kes itu dirancang untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan diagnosis, pengobatan, serta pencegahan malaria sesuai pedoman terbaru.
Selama pelatihan, para peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari analisis hasil tes diagnostik malaria, tata laksana malaria tanpa komplikasi, penanganan malaria berat, tata laksana malaria pada anak dan ibu hamil, pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), pencegahan malaria, hingga penyusunan rencana logistik malaria.
Tidak hanya menerima materi di dalam kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan di Puskesmas Ranomeeto dan Puskesmas Lameuru. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman serta keterampilan dokter dalam menerapkan tata laksana malaria secara langsung di fasilitas pelayanan kesehatan.

Penanggung jawab kegiatan, Yuyun Nirwana Subair, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas, khususnya dalam penanganan kasus malaria secara cepat, tepat, dan sesuai standar.
“Melalui pelatihan ini, para dokter diharapkan semakin siap dalam melakukan diagnosis dini, memberikan pengobatan yang efektif, serta menjalankan upaya pencegahan dan pengendalian malaria di wilayah kerjanya masing-masing,” katanya.
Yuyun menambahkan, status eliminasi malaria yang telah diraih Konawe Selatan sejak 2014 perlu terus dipertahankan melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan penguatan sistem surveilans.
“Selama ini kasus malaria yang ditemukan di Konawe Selatan merupakan kasus impor atau berasal dari luar daerah, bukan kasus yang berasal dari wilayah Konawe Selatan. Karena itu, upaya mempertahankan eliminasi malaria harus terus dilakukan,” jelasnya.
Melalui pelatihan tersebut, Dinas Kesehatan Konawe Selatan berharap seluruh tenaga medis dapat berperan aktif dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan serta mendukung percepatan pencapaian target eliminasi malaria nasional, sehingga masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
(Marwan)













