HarianSultra.com, Kendari — Seorang orang tua siswa di Kendari, Muhammad Al Imran, mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap pihak Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pondok Pesantren Umusabri. Ia menduga sekolah telah mengeluarkan anaknya secara sepihak tanpa adanya proses klarifikasi yang tuntas.
Anak Al Imran, Kensi Anindito Imran, tercatat telah mengenyam pendidikan di Umusabri sejak jenjang TK hingga duduk di kelas V MI. Masalah ini mencuat pada semester pertama kelas V, dipicu oleh persoalan absensi yang menurut Al Imran terjadi karena kondisi darurat keluarga.
Al Imran menjelaskan bahwa kendala kehadiran anaknya disebabkan oleh kondisi orang tuanya yang sedang sakit dan membutuhkan perawatan intensif. Meski telah berupaya memperbaiki komunikasi dan menyediakan jasa antar-jemput khusus, keputusan sekolah tetap mengejutkan pihak keluarga.
”Pada hari pertama masuk sekolah usai ujian semester, anak saya justru diminta pulang untuk memanggil orang tua. Tak lama kemudian, saya menerima pesan WhatsApp dari wali kelas yang menyatakan anak saya ‘dikembalikan’ kepada orang tua,” ujar Al Imran, Sabtu (12/2).
Upaya Al Imran untuk melakukan mediasi dengan kepala sekolah sempat beberapa kali tertunda karena kendala teknis dan situasi darurat medis yang dialami keluarganya. Namun, ia menyayangkan pihak sekolah tidak memberikan ruang dialog lebih lanjut sejak Desember 2025.
Hal yang paling disesalkan Al Imran bukan sekadar materi, melainkan kondisi mental sang anak. Menurutnya, keputusan tersebut telah mematahkan semangat belajar putranya.
”Yang paling saya sesalkan itu mental anak saya. Dia masih kelas lima SD. Sekarang sering mengigau dan bertanya, ‘Kenapa saya dikeluarkan dari sekolah?’ Itu yang paling berat buat kami,” tuturnya dengan nada kecewa.
Al Imran juga menyoroti janji pembinaan sekolah yang dirasanya tidak sesuai dengan realitas di lapangan, termasuk target hafalan Al-Qur’an yang menurutnya kurang realistis bagi semua siswa.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Al Imran menuntut pihak yayasan dan sekolah untuk Membuka ruang dialog secara transparan, Mempertimbangkan kondisi psikis siswa sebelum mengambil keputusan sepihak, dan Memastikan kejadian serupa tidak menimpa siswa lain di masa depan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pondok Pesantren Umusabri Kendari belum memberikan pernyataan resmi. Redaksi tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak sekolah untuk memberikan hak jawab dan klarifikasi guna keberimbangan informasi.(Marwan)












